Minggu, 16 April 2017

kita seharusnya banyak melihat tiga hal: bayi, orang sakit dan orang mati. Baginya, melihat bayi itu sama saja dengan melihat kelemahan. Saat bayi lahir ia tampak menangis keras dan tidak berdaya. Lalu sang ibu menggendong dan menyusuinya. Setelah itu bayi itu terdiam. Begitulah hidup kita, harus banyak melihat diri kita seperti bayi: lemah dan tidak berdaya. Kita baru bisa kuat setelah mendapatkan asupan dan energi dari Tuhan.
Ia juga menganjurkan kita untuk sering melihat orang sakit dan orang mati. Orang sakit menggambarkan bahwa kita sangatlah lemah, seperti bayi. Karena itu, saat sehat pergunakan sebaik mungkin untuk bekerja dan beribadah. Saat sakit kita butuh pertolongan Tuhan. Sebaiknya hal ini juga kita pakai saat sehat, sehingga kita seolah-olah selalu membutuhkan pertolongan Tuhan. Dengan demikian, kita selalu berdoa setiap saat kepada-Nya.
Sementara orang mati menjelaskan kepada kita bahwa hidup ini tidak ada artinya ketika ajal kita telah diambil oleh malaikat Izrail. Harta dan segala yang bersifat duniawi terasa sangat tidak berarti saat nyawa lepas dari raga ini. Karena itu, mencari duniawi itu setengah-tengah saja atau seimbang dengan kehidupan akherat. Ironinya, kebanyakan di antara kita lebih senang mendahulukan kehidupan duniawi. Bahkan, tidak jarang harus saling mengorbankan orang lain hanya karena masalah ini.

2 komentar: